Senin, 06 September 2010
Ramdhan 2010
Senin, 09 Agustus 2010
July Part II
July Part I
Jumat, 18 Juni 2010
Finally I see BROMO

Postingan yang sudah basi. Tapi tak apalah. Di sini aku menunjukkan bahwa aku masih eksis ngeblog.
Kali ini Bromo yang akan aku bahas.
Bromo, sebuah tempat yang sangat ingin aku kunjungi dari dulu. Dan kesempatan itu datang juga akhirnya. Bersama keempat temanku aku berangkat kesana dengan motor. Kami berangkat dari surabaya. Berhenti sejenak di rumah temanku, di bangil, Pasuruan. Ibunya Rohman membawakan empat bungkus nasi dan 3 botol air mineral (1,5LT), terima kasih yang tak terhingga buat ibunya rohman. Karena dengan bekal tersebut kami tidak mati kelaparan ketika kami sampai di penginapan sekitar jam 8 malam. Udaranya saat dingin apalagi selama perjalananan badan kami diguyur hujan deras.
Setelah makan malam di penginapan kami beristirahat sejenak. jam 2 dini hari kami memulai petualangan kami.Gelap gulita di tengah lautan pasir. Aku naik motor seorang diri sedangkan temanku boncengan. itu dikarenakan jumlah kami ganjil, berlima. Udara dingin sudah tidak aku rasakan lagi. Aku fokus pada sekitarku yang benar-benar gelap. Tidak tahu harus berjalan kemana sampai kami melihat sorot lampu Jeep dari arah belakang kami. Seperti cahaya malaikat. Kami mengendarai motor mengikuti Jeep. Hanya itu yang bisa diandalkan untuk sampai puncak penanjakan. Perjalanannya memakan waktu sekitar satu jam lebih. Namun semua perjuangan itu terbayarkan saat kami matahari perlahan muncul di timur. menyingkap kabut yang menyelimuti tatanan pegunungan di bawah kami. Betulan. Gunung-gunung itu di bawah kami. Itulah alasan kenapa banyak turis berjibun dengan kameranya yang canggih-canggih ke puncak ini. Ada sekitar ratusan turis bersama kami. Daya tarik yang luar biasa memang. Kagumku tidak akan pernah habis untuk bromo.
Indonesia memang indah. Trims buat teman-temanku. Dengan mereka aku bisa menghirup sejuknya Tengger. I love you all.
Senin, 29 Maret 2010
I won't cry, Just For You My Sister

Skenario Allah merupakan skenario terbaik dari semua rencana yang dibuat manusia di bumi ini. Tak ada satu makhluk pun yang bisa menebak apa yang bakal terjadi pada kita satu detik yang akan datang. Untuk sepupuku Feby, ini rahasia. Sekarang kau mungkin tahu kenapa Allah memanggilmu begitu cepatnya. Dan kami semua, yang dibuat sesak dan tercekat karena sudah tak keruan lagi menangis, sebaliknya hanya bertanya-tanya. Mengapa? Itu saja.
16 Maret 2010. Tak akan pernah kami lupakan. Atau bakal kami keramatkan tanggal itu. Jika bukan karena Allah mungkin kami tidak bisa mengikhlaskan kau pergi. Tapi Allah Maha Baik. Kau aman di sisinya sekarang. Bahkan kau bisa lihat kami. Betapa hina, kotor, dan menjijikkannya perbuatan yang kami lakukan. Dan sekarang kau pun tahu bahwa Allah sangat menyayangimu, bukan?

Untuk soal mimpi-mimpimu... tenang saja. Aku yang akan mewujudkannya. Dan secara tidak langsung kau bisa ikut kemana aku pergi. Keren bukan? Kau bisa melihat dunia yang sebelumnya belum kau lihat. Dan kita akan meraih dan mewujudkan mimpi bersama. SEMANGAT!!!!
Feby, kami semua menyayangimu. Dan kita tidak akan menangis lagi. Sampai jumpa. Kita pasti akan berkumpul lagi. Aku mohon tertawalah.
Jumat, 05 Maret 2010
Beginilah Tradisi
Musik gamelan menyambut kami sekeluarga saat kami tiba di depan rumah yang punya hajatan. Aku melihat sekelompok bapak-bapak tua memainkan alat musik gamelan di tempat yang mirip bungalow yang menghadap ke depan jalan di mana mereka dapat melihat para tamu datang. Rupanya mereka disewa untuk memainkan musik untuk menyambut para tamu yang datang, sementara kami dipersilahkan duduk di meja yang menghadap pelaminan. Di atas meja yang panjangnya sekitar 5 meter tersebut berjajar sepanjang meja kue-kue kering beraneka rupa yang ditempatkan di dalam toples kaca sementara kue-kue basah diletakkan di atas piring. Aku sempat berdecak kagum pertama kali melihatnya. Kupikir mereka berlebihan. Siapa yang bakal menghabiskan semua kue-kue tersebut? Mereka membuat makanan sebanyak itu seperti membuat persediaan makan selama sebulan. Kau akan terkesima saat pergi ke tempat tepat di belakang rumah sang pemilik hajatan yang sudah disulap menjadi sebuah dapur raksasa. Lagi-lagi di sini aku seperti berada di dalam dapur istana yang pernah aku lihat di serial drama Jewel In The Palace. Uniknya di dapur ini yang masak 90 % adalah wanita-wanita tua yang berpakaian kebaya, pakaian sehari-hari mereka. Asap mengepul-ngepul di tiap tungku yang terbuat dari tanah. Tapi inilah adat. Mereka masih mempertahankan cara-cara lama yang dilakukan para orang tua mereka. Kebetulan sekali desa tempat tinggal orang yang punya hajatan ini merupakan desa wisata adat satu-satunya di Banyuwangi. Namanya Desa Kemiren. Keseharian masyarakatnya menggunakan bahasa Osing, bahasa asli masyarakat Banyuwangi. Dan aku sangat mengagumi budaya tempat di mana aku dilahirkan ini. Seperti yang pernah kudengar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai sejarah dan kebudayaan bangsanya sendiri. Aku merasa seperti itu.
Jumat, 11 Desember 2009
Feel
Saat ada bedah buku “FEEL” – sebuah novel pertama dari Wulan Guritno dan Adila Dimitri, suaminya – di kampusku tanggal 3 Desember kemarin, dalam hati aku bilang, “Pokoknya harus lihat!”. Awalnya untuk bisa hadir di acara itu ribet: ponselmu harus memakai salah satu kartu dari provider yang punya acara tersebut. Kemudian kamu harus mendaftarkan diri di salah satu programnya yang bertema kampus. Ok, sehari sebelum acara aku beli salah satu kartu perdananya dan register. Dan pas harinya, semua itu nggak diperlukan. Siapapun boleh masuk dan cukup mengisi buku tamu. Aku duduk dan… takjub melihat sosok Wulan Guritno pertama kali dalam hidupku. Langsung. Tanpa pembatas apapun.
Waktu itu aku datang bersama teman sekosku. Dia bilang padaku kalau sangat ingin mengajukan pertanyaan karena ingin melihat lebih dekat lagi Wulan Guritno. Kemudian aku minta dia untuk menanyakan apa yang ingin aku tanyakan – karena aku pun juga ingin ikut bertanya tapi tahulah gimana aku. Aku bisa mati gugup. Setelah giliran temenku bertanya: berdiri, maju ke tengah, tempat dimana mikropon berdiri, dan disitulah kamu akan bicara. Sementara dalam sekali di dalam tubuhku aku tidak berhentinya ribut sendiri – aku sangat ingin bertanya. Bukan masalah dengan apa yang akan kutanyakan, tapi lebih kepada keberanian untuk public speaking, itu istilah kerennya. Ini kesempatan untuk berlanjut pada kesempatan yang lebih besar lagi.
Aku mulai memerhatikan mereka yang hadir disitu. Mulai berpikir jumlah penonton – oh, ini sama seperti kuliah di kelas. Baiklah.
Begitu moderator bilang kalau pada saat itu adalah kesempatan terakhir untuk bertanya, pergelangan tanganku terangkat. Dan aku benar-benar menjadi yang terakhir. Sajian penutup, boleh dibilang.
Melegakan, aku berdiri di depan mikropon sekitar 5 menit dengan tidak satu pertanyaan, tapi 3 seingatku. Dengan muka panas sekali aku mendengarkan jawaban mereka sambil masih berdiri di dpean mikropon. Sampai jawabanku tuntas dijawab.
Acara usai aku beli satu Feel dan minta tandatangan kedua penulisnya, kemudian berfoto bersama.
Kesimpulannya bukan soal tandangan atau foto bareng Wulan Guritno, tetapi keberanian. Untuk menjadi berani semuanya itu yang mengendalikan diri kita sendiri. Ketakutan hanya bisa diatasi dengan tindakan. Itu poinnya.
Senin, 30 November 2009
2012

Kehancuran total yang menggelikan. Semuanya berterbangan seperti kapas. Tapi anehnya kamu akan selamat dari semua itu jika kamu pergi dengan Limo. Dan anehnya lagi kenapa film menggelikan seperti itu diharamkan oleh MUI dan menganggap film 2012 ini menyesatkan. Bukannya pendapat seperti itu malah membuat penasaran banyak orang lalu kemudian rela antri panjang di bioskop. Dan dengan begini secara tidak langsung MUI juga bertindak sebagai promotor dari film 2012 ini karena makin banyak orang yang penasaran lalu nonton filmnya di bioskop maka pendapatan film ini pun akan semakin meroket. Padahal jalan cerita dari film ini pun sehancur dunia yang mereka (para pembuat film 2012) gambarkan di film.
Seperti yang disarankan oleh Kompas bahwa jika kamu menontonnya, plis, jangan pikirkan jalan ceritanya. Nikmati saja efek-efek dahsyat khas Amerika-nya. Jadi siapapun kalian yang masih penasaran dengan 2012 segera tonton. Mumpung masih halal.
Sabtu, 31 Oktober 2009
One last day on October
Indah memang saat lebaran hadir, meskipun sangat sedih meninggalkan ramadhan. Rutinitasku selama ramadhan boleh dibilang berbeda. Different. Sejeh. Banyak hal-hal yang berada diluar kepala yang membuat perasaanku menjadi lain. Aku tidak bisa menyebutkan dengan pasti perasaan seperti apa itu.
Untuk selanjutnya akhirnya aku berangkat juga. Tengah malam. Ke Banyuwangi. Dan menghabiskan malam hingga menjelang pagi di sebuah SPBU di mana kamu akan membayar lima ribu rupiah untuk membuang air senimu karena kamu masuk ke toilet VIP. Ini beneran. Aku berhenti di salah satu SPBU yang telah mendapatkan penghargaan sebagai SPBU terlengkap sepanjang jalur Banyuwangi-Malang. Di sini kalian bisa mendapati hotel, restaurant, masjid, food court, dan toilet VIP. Sayangnya aku tidak sempat dan lagipula nggak sudi mengeluarkan lima ribu hanya untuk membuang kotoranmu.
Senin, 07 September 2009
New Face Of My Blog
Kemarin baru beres bikin header blog. Awalnya bingung juga mau didesain seperti apa, tapi yang jelas aku ingin dominasi warna biru pada blogku. Maka aku buat warna dasarnya biru dengan sedikit gradasi biru muda. Lalu aku taruh fotoku yang aku buat seperti tempelan, begitupun dengan judulnya aku bikin ada benang-benang yang seolah-seolah jahitan. Belakang judul aku beri garis-garis horizontal seperti buku bergaris yang kemudian aku beri tulisan dan gambar-gambar mirip goresan tangan anak TK. Kalian mungkin bisa melihatnya langsung di atas
I Like Second Hand Books
Niatnya pas hari Jumat kemarin cuma mengantar teman-teman kos beli buku kuliah yang bajakan di pasar blauran. Sebelumnya aku belum pernah pergi kesana karena bayanganku pasti hanya buku-buku baru bajakan, tapi dugaanku keliru. Banyak juga yang jual buku bekas juga. Kalo di Jl.Semarang tersedia buku bekas beraneka macam, sedangkan di Blauran lebih ke spesialis buku-buku pelajaran sekolah maupun kampus. Disini aku nemu buku yang udah tua banget dan aku cuma punya kopiannya saking aku pengin sekali punya buku ini dan akhirnya, tanpa di sengaja, dapat di Blauran itu. Buku itu merupakan buku biografi BJ. Habibie dan satunya lagi sebuah biografi juga dari Einstein. Semua buku tua banget. Warna kertasnya saja sudah menguning.
Abis dari Blauran kami meluncur ke toko buku diskon TOGA MAS. Nah, baru disini aku beli novel. Dua sekaligus. Satu novel Indonesia Negeri Van Orange dan satunya novel terjemahan yang aku lupa judulnya (nanti saja aku update lagi). Lalu kami berbuka di masjid Al-Falah. Di seberang jalan. Dapat pengalaman berbuka yang berbeda di sini. Ceritanya di posting selanjutnya aja, ya. Hhehehehe..
Rabu, 02 September 2009
Dapat Amunisi Semangat Baru
Menunggu peristiwa atau hal penting untuk diposkan di blog rasanya bodoh. Hampir sebulan tidak menulis hanya karena menunggu sesuatu yang tidak jelas datang dan nyatanya memang tidak ada yang datang. Sampai akhirnya kemarin buka-buka blognya Raditya Dika dan disana menemukan sebuah tulisan yang menggugah semangat menulisku kembali. Awalnya aku pikir dia, Raditya Dika maksudku, hanya mengisi blognya dengan tulisan-tulisan konyolnya saja dan jauh dari kesan serius, tapi ternyata dia bisa menulis tips bagaimana cara menulis blog yang baik dan di sini dia bicara soal elemen. Kalimat-kalimat yang ia gunakan pun berbeda dengan yang biasa kau baca di blognya. Tulisannya lebih mirip kolumnis Kompas ketimbang seorang Raditya Dika. Dan dia berhasil.
Kemudian dari sini aku berpikir bahwa manusia seperti dia saja yang sekarang menjadi manusia super sibuk masih sempat menulis untuk blognya, novel, dan proyek lainnya. Seperti yang ditulis di blognya bahwa setiap penulis yang baik pasti memiliki “voice”-nya sendiri. Seperti setiap manusia mempunyai ciri khas suaranya masing-masing yang mejadi pembeda sehingga orang yang membaca bisa langsung tahu bahwa itu tulisan kita. Untuk bisa mencapai itu tentunya dengan lebih banyak membaca dan berlatih menulis. Dan aku sedang berusaha untuk melakukan itu. Semoga saja tidak menguap di rongga mulut.
Sabtu, 01 Agustus 2009
UP! : Cross Your Heart

Fredricksen, bocah yang hobi bertualang dan mengidolakan seorang petualang Amerika yang terkenal. Ellie, anak perempuan yang juga mempunyai hobi dan idola yang sama dengan Fredricksen. Mereka bertemu dan menjalin pertemanan hingga dewasa dan menikah. Sejak kecil Ellie memiliki impian bisa membangun rumah di atas Paradise Fall (Air Terjun Surga) yang ada di Amerika Selatan. Ellie menggambar impiannya tersebut di dalam buku petualangannya. Sampai mereka tua dan tahu bahwa Ellie tak bisa mempunyai anak, Fredricksen yang sangat mencintainya ingin mengembalikan kebahagiaan Ellie. Dia ingin mewujudkan impiannya Ellie. Dari uang tabungannya bekerja sebagai penjual balon gas, Fredricksen mempersiapkan kejutan buat Ellie. Namun sayang Ellie keburu meninggal dan meninggalkan Fredricksen seorang diri. Karena sangat menyayangi rumahnya yang begitu banyak meninggalkan kenangan-kenangan indah bersama istrinya, Fredricksen tidak mau menyerahkan rumahnya ini kepada pebisnis yang ingin membangun gedung di atas tanah rumahnya. Jadinya Fredricksen tinggal dirumahnya dengan dikelilingi alat-alat berat yang sedang bekerja. Hingga suatu hari dia terkena kasus yang mengharuskan dia berurusan dengan pengadilan dan pengadilan menang sementara Fredricksen harus merelakan rumahnya pada pebisnis yang mengelola gedung dan dianya sendiri akan tinggal di panti jompo. Tak mau menyerahkan rumahnya begitu saja ternyata Fredricksen sudah mempersiapkan rencana. Tiba-tiba saja saat dua petugas jompo mau menjemputnya di pagi hari, menyembul ribuan balon di atas cerobong asap rumahnya dan perlahan mengangkat rumahnya ke atas lalu terbang. Ternyata itulah kejutan yang disiapkan oleh Fredricksen untuk Ellie seandainya dia masih hidup dan membawanya terbang ke Air Terjun Surga.
Fredricksen tidak pergi sendirian. Dia ditemani oleh seorang bocah pramuka yang sebelum hari keberangkatannya mengetuk pintu rumahnya. Dan anak itu sekarang terbang bersamanya. Anak itu bernama Russel. Bersama dialah Fredricksen memulai petualangannya ke Amerika Selatan, ke Paradise Fall. Banyak sekali hal-hal seru yang mereka lalui hingga meraka melihat dengan kepala mata sendiri Air Terjun Surga. Petualangan seru mereka dimulai di sini. Bagaimana Fredricksen harus bertemu dengan petualang idolanya semasa kecilnya dan berubah menjadi musuhnya di hutan sana. Bagaimana Fredricksen belajar banyak dari seorang bocah seperti Russel yang secara tidak langsung mengajarinya tentang ‘berjanji’, arti sebuah pertemanan, dan pengorbanan. Kesimpulannya film ini sarat akan pelajaran. Pelajaran hidup tentunya. Cross your heart!
Film Animasi Pertama
UP! Menjadi film animasi pertama yang aku tonton di bioskop sepanjang sejarah aku nonton film di 21 ataupun XXI. Sebelum-sebelumnya aku anti nonton film animasi di bioskop. Terlalu berwarna-warni menurutku. Hahahhahhaa… Bukan kok. Cuma gak pengin aja.
Film-film PIXAR yang udah pernah aku tonton dan membuatku terkesan langsung adalah Ratatouille, Wall-E, dan UP! ini. Rata-rata film yang dibuat PIXAR selalu mendidik. Jadi film-filmnya tidak harus ditujukan buat anak-anak, tapi remaja dan orang-orang dewasa bisa menontonnya.
Sabtu, 25 Juli 2009
Public Enemies: Bercerita Keteledoran Polisi

Kamis, 23 Juli 2009
Nonton Harry Potter and The Half Blood Prince

Workshop La Lights Indie Movie 2009 : 3th Season
maksudnya di sesi ini kita praktek langsung mengenai lighting, frame, dan bikin film langsung (meskipun aku pikir mereka tidak sedang membuat film, tapi lebih ke gurauan bagaimana cara men-direct layaknya sutradara). 
Kemudian ada penjelasan dan contoh penulisan sinopsis yang nantinya akan membawamu ke babak berikutnya kalau ceritamu lolos. Namun sangat disayangkan pesertanya tidak seramai dengan tahun lalu dan film yang diputar jauh lebih sedikit. Untuk pembicaranya sendiri memang aku kagumi karya-karyanya. Dia adalah Ifa Isfansyah, sutradara Garuda di Dadaku dan aku berkesempatan bisa foto bareng dengan dia. Pembicara yang lainnya adalah Ho Yuhang (sutradara dari Malaysia), Arturo GP, dan dua lainnya dari kru film Cin(T)a, di mana mereka adalah finalis dari La Lights Indie Movie tahun-tahun sebelumnya. 



Namun satu yang sangat disayangkan untuk workshop kali ini yaitu aku harus berbesar hati bahwa ide cerita yang aku kumpulkan tidak mampu membawaku lolos ke babak berikutnya. Berhenti. Dan harus menunggu setahun lagi. Dalam workshop kemarin di dalam goody bag yang diberikan kepada setiap peserta workshop terdapat cheat sheet mengenai filmmaking. Setelah aku membacanya aku merasa benar-benar buta mengenai filmmaking. Jadi menurutku cheat sheet berguna sekali buat kalian yang tertarik untuk memproduksi/membuat sebuah film. Entah itu film pendek atau panjang atau yang lainnya.
Dengan ikhlas aku ketikkan ulang cheat sheet ini buat kalian. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.
SHORT NARRATIVE FILMMAKING CHEAT SHEET
1.Pengen buat film?! Pengen aja nggak cukup!! Yang harus ditanyakan pada diri sendiri sebelum membuat fillmu:
a.Kenapa kamu pengen buat film ini?
b.Apa yang ingin kamu sampaikan melalui film ini?
c.Siapa calon penonton film ini?
d.Apa dan berapa modalmu untuk buat film?
e.Apa yang kamu punya?
f.Apa yang kamu tidak punya?
g.Dimana kamu bica cari yang tidak kamu punya?
h.Apakah kamu mengerti proses produksi filmmu?
i.Dimana bisa cari info yang berhubungan dengan produksi filmmu?
j.Begitu filmnya jadi mau diapakan? Distribusi kemana dan bagaimana?
k.Kenali potensi dirimu, apakah kamu lebih cocok kerja sendiri dan membuat karya yang personal atau kamu lebih cocok bekerja dengan satu tim?
l.Apa kamu punya teman untuk berbagi misi dan visi kamu dalam membuat film kamu? Kenapa nggak ajak teman kamu? Apa lebih baik cari crew yang bukan teman kamu?
m.Apakah kamu cocok jadi director? Atau lebih cocok jado actor? Atau sound designer? Kalau begitu carilah temanmu yang akan produksi film dan bantulah dia dengan kemampuanmu sebaik mungkin.
n.Know your strength, know your limits. Jangan ragu untuk berkolaborasi dengan orang lain. Ketahuilah film is a collaborative work. Filmaking doesn’t always have to be all about directing. Bahkan kemampuan manajerial dalam sebuah produksi film itu adalah bagian dari filmmaking! Apa potensi dirimu yang terbesar?
o.Kenapa kamu masih baca instruksi ini? Ayo cepat bikin film!!
2.Bikin film narativ itu prosesnya dimulai dengan perencanaan dan semua perencanaan akan bergantung pada script film (dengan atau tanpa dialog).
3.NOTE: Kalau kamu tipe orang yang implusif dan spontan, jangan ragu untuk angkat kamera dan mulai merekam dan jangan menunda untuk segera mengedit film tersebut. Karena sama spontannya seperti kamu mengangkat kamera karena instingmu, keinginan untuk mengedit dan menyelesaikan film itu bisa segera hilang.
4.Mulailah dengan apa yang kamu punya dan kamu tahu. Keep it simple! Kalau script kamu melibatkan hal-hal seperti meledakkan mobil Mercedes benz dan robot Gundam skala 1:1, think again. Apakah itu benar-benar perlu dikerjakan? Kalau iya, coba pertimbangkan scriptmu lagi.
5.Jangan tunggu inspirasimu, tulis segera idemu dan jangan berhenti menulis. Setelah selesai, baca ulang dan tulis ulang sampai kamu rasa tepat.
6.Kalau menulis script itu terlalu menyebalkan atau sulit buat kamu, cari seorang scriptwriter. Filmmaking is a collaborative work !
7.Dari script kita bisa melihat semua kebutuhan shooting kita mulai dari jumlah actor, lokasi, property, efek visual dan suara, kebutuhan kamera.
8.Setelah kebutuhan shooting tercatat, mulailah mencari cara untuk memenuhi kebutuhan ini. Mulai dari yang kamu punya. Be realisticly persistent.
9.Selalu kenali kebutuhan teknismu. Jika kamu tidak bisa mengenali kebutuhan teknismu cari teman yang mau membantumu untuk mengenali kebutuhan teknis ini.
10.Jangan ragi untuk menyewa actor/crew profesional kalau budget memungkinkan atau kalau kamu punya teman ‘aktor/crew profesional’ yang mau meluangkan waktu dan tenaga untuk filmmu, pastikan mereka terlibat secara kreatif dan aktif dalam produksimu. Once the join the crew, it’s their film too! Temukan mereka jauh sebelum hari shooting dan pastikan mereka bisa ikut dalam produksimu.
11.Berpikirlah secara editing ketika mengembangkan scriptmu. Fokuslah pada bagian-bagian yang penting bagi perkembangan cerita dalam script filmmu.
12.ALWAYS MAKE A SHOT LIST! Visualisasikan dalam kepalamu simulasi keadaan shootingmu lalu tuangkan dalam kertas untuk mengantisipasi shooting sebenarnya.
13.BUATLAH JADWAL SHOOTING sedetail mungkin dan seteliti mungkin dan PASTIKAN JADWAL INI DIPATUHI.
14.Periksa dan periksa ulang kebutuhan shootingmu.
15.KENALI FORMATMU. Kenali apakah kameramu Celulloid/film atau Analog Video atau Digital Video atau High Definiton. Semakin kamu mengenali format yang akan kamu pakai semakin baik output filmmu. Luangkan sedikit waktu lebih untuk ini. Research sendiri dan/atau cari ahli yang bisa menjelaskan ke kamu. Jangan lupa cari tahu bagaimana caranya supaya output filmmu maksimal!
16.SELALU CHECK KAMERAMU. Baik kamera rental maupun kamera colongan dari mantan pacarmu harus dipastikan bahwa kamera tersebut bekerja dengan baik. Baca manualnya (bisa didownload di internet; cari tahu tipe kameranya) dan lakukan test kamera sampai kamu hafal dengan setiap function dari kamera tersebut (tapi jangan sampai kameranya rusak ya!) KEYWORDS: WHITE BALANCE, APERTURE/ SHUTTER SPEED SETTING, GAIN LEVEL, ND FILTER, dan AUTO/MANUAL FOCUS.
17.Sebelum shooting explore kemungkinan framingmu. Cari tau mengenai perealatan lighting dan aksesoris kamera di rental ala film. Kalau kamu tidak ada uang untuk menyewa alat, paling tidak cari cara untuk mengimitasi alat tersebut secara manual! TIPS: di internet ada banyak tips mengenai kamera (tapi jangan keasikan di sini ya, bisa-bisa lupa sama film yang mau kamu buat!)
18.JANGAN MEREMEHKAN AUDIO! KENALI MIKORPONMU! Pastikan kamu tahu cara rekam dialog dan suara lingkungan (ambient/atmospheric/room noise) sekitar lokasi. TIPS: rekam dialog dengan mikropon sedekat mungkin pada saat framing kamera lekat pada actor. TIPS 2 : rekam suara lingkungan secara terpisah. Ambil suara lingkungan sebelum pindah lokasi lain dan pastikan krumu tahu kamu sedang merekam suara lingkungan dan pastikan mereka tidak bersuara ketika sedang merekam audio.
19.KENALI AKTORMU. Pastikan aktormu sudah mengerti benar scriptmu melalui reading dan rehearsal, dan sebisa mungkin bangun chemistry antara dirimu dan para aktormu.
20.KENALI KRUMU. Tidak bisa ditekankan lebih jauh lagi bahwa membuat film itu adalah kolaborasi. Pastikan krumu mengerti scriptmu dan sebisa mungkin bangun chemistry dengan krumu. Perlakukan semua yang mendukung filmmu dengan respect karena hanya orang gila yang mau membantumu membangun mimpimu.
21.UANG BUKAN SEGALANYA tapi nggak ada salahnya kalau kamu bisa mendapatkan uang untuk filmmu. Yang perlu diingat: kamu nggak sendirian. Pastikan semua yang berhubungan dengan film mendapatkan bagiannya dan pastikan legalitasnya. Hanya karena camera person dalam filmmu adalah sahabatmu, tidak berarti dia gratisan! Paling tidak beri makan krumu dengan layak. Jangan buat kontrak kerja yang layak.
22.KENALI KEUANGAN FILMU. Sedikit atau banyak, pastikan kamu bisa memanage keuangan filmmu. Selalu buat laporan keuangan tertulis dan tercatat. Buatlah budget untuk produksi filmmu dan PATUHI budget tersebut. WORK AROUND YOUR BUDGET. JANGAN BERGANTUNG DENGAN BUDGETMU.
23.KENALI LOKASIMU. No location, no shooting. Jangan paksa lokasimu untuk menjadi apa yang kamu mau, tapi kenali karakter lokasimu dan berimprovisasilah sesuai dengan karakter tersebut. Pastikan kamu mendapatkan ijin lokasi shootingmu. Hal penting yang harus kamu perhatikan: kemudian akses lokasi dan fasilitas, perijinan lokasi dan keamanan, dan detail lokasi yang berhubungan dengan audio dan visual(e.g: arah matahari terbit dan tingkat keributan lokasi), serta kemungkinan akomodasi. TIPS: cari lokasi yang paling bisa kamu akses secara personal. Misalnya sawah nenekmu atau apartemen sahabatmu.
24.Curi-curi shooting di lokasi tertentu atau “bergerilya” adalah opsi lain untuk shooting sesuai dengan keinginanmu, tapi banyak yang mesti diperhatikan ketika melakukan ini. TIPS: ketika bergerilya sebisa mungkin jangan sampai terlihat ‘lagi shooting’ (eg: pura-pura jadi turis di Borobudur) dan perhatikan framingmu. Jangan sampai ada logo atau apapun yang bisa menjelaskan lokasimu di frame scene tersebut.
25.AKHIRNYA SHOOTING DAY!! Pastikan semua berjalan sesuai rencana yang disiapkan, jangan panik kalau ada yang tidak sesuai tapi selalu berusaha untuk mengambil keputusan yang terbaik.
26.Sebelum kamera rolling aba-aba yang digunakan setelah scene selesai disiapkan adalah (sesuai urutan): QUIET ON SET, CAMERA (aba-aba untuk cameraman yang akan menjawab “Camera Rolling” setelah ia menekan tombol record), SLATE IN (papan dengan keterangan nama film, scne nomor berapa dan take nomer berapa), SOUND (aba-aba untuk sound recordist yang memastikan bahwa audio telah terekam, setelah yakin ia akan menjawab “sound recording”, ACTION (ketika action papan slate di-clap dan keluar frame. Menandakan adegan dimulai). HANYA DIRECTOR YANG BOLEH BILANG CUT KETIKA ADEGAN SELESAI.
27.Point 26 ini hanya acuan standard. Banyak modifikasinya, yang penting adalah bahwa tim produksimu tahu kapan merekam dan kapan selesai merekam dan dibawah aba-aba siapa.
28.JANGAN PERNAH BERPIKIR “Nanti aja pas editing” ketika shooting. PASTIKAN lighting baik, audio baik, shotlist terpenuhi, dan kebutuhan efek terpenuhi.
29.CATAT HASIL SHOOTINGMU UNTUK REFERENSI EDITING. Yang perlu dicatat: kualitas gambar, kualitas audio, dan komentar sutradara (baik atau tidak).
30.AKHIRNYA SHOOTING SELESAI!! Ini artinya pertempuaran baru dimulai di meja editing. Editing itu adalah bagian terpenting dari filmmaking. KENALI POTENSI EDITING DARI AWAL.
31.EDITLAH FILMMU SEBAIK MUNGKIN. EDIT DAN EDIT ULANG!!
32.Gunakan music yang kamu punya ijinnya. TIPS: cari temanmu yang musisi dan buat legal kontrak dengan dia.
33.Tambahkan efek suara pada filmmu. Sebisa mungkin BUAT SENDIRI efek itu. TIPS: buat sesi rekaman sendiri setelah editing selesai.
34.BUAT MASTER COPY dari filmmu dalam format terbaik (BUKAN DALAM BENTUK compressed DVD) dan BACK UP MASTER COPY TERSEBUT.
35.FILM SELESAI!!! Satu perjuangan lagi… MARKETING DAN DISTRIBUTION!!
36.Kemas filmmu sunik mungkin dan cari festival atau distributor untuk filmmu. Siapkan profil diri kamu dalam bentuk CV dan siapkan materi promo filmmu (still photos, one page synopsis, trailer, small flyers, etc) untuk kamu kirim via pos ke pelosok dunia.
Cerita Dari Rumah
Tanggal 11 Juli kemarin, dengan menggunakan kereta api Mutiara Timur pagi, aku balik ke Banyuwangi. Ini kali pertama di tahun ini aku pulang. Aku sudah berencana untuk tidak berlama-lama di sana. Aku akan balik lagi ke Surabaya hari kamisnya, yaitu tanggal 16. Soalnya hari Sabtunya, tanggal 18 aku ikut workshop La Lights Indie Movie.
Tiba di Banyuwangi sekitar pukul 4. Menuju ke rumah aku tidak mau dijemput karena aku tahu bapak belum pulang kerja, jadi aku nyarter angkot yang bisa langsung berhenti di depan rumah. Ya, konsepnya taksi, tapi di sini aku hanya perlu bayar lima ribu rupiah saja. Nggak ada yang namanya mesin argo.
Hampir tujuh bulan nggak bertemu, aku melihat ibuku semakin gemuk saja tubuhnya. Aku menyalaminya dengan kerinduan yang amat sangat. Dan untuk malam harinya bapak mengajak kami sekeluarga: aku, ibu, Dini, Mbah Kung, Nenek, Mbak Ita-Mas Teguh (Mbak Ita adalah adik tertua ibu) dengan dua anaknya yang sangat aku sayangi Fial dan Momok (nama sebenarnya mereka Diva dan Dika) ke tempat makan yang belum pernah aku datangi namun tempatnya sudah tidak asing lagi bagi aku.
Tempatnya di pinggir pantai. Dekat dengan perkampungan nelayan sehingga banyak perahu berjajar. Untung tidak datang siang hari karena kalau siang hari tempat itu busuk, kotor, dan panas. Karena pas aku kesana malam hari jadi yang aku lihat adalah keindahan malam hari selayaknya jika kau berdiri di pinggir laut malam hari dan di seberangnya kau melihat lampu-lampu berkilauan. Untuk menunya, pastilah kalian bisa menebaknya. Seafood, tentunya. Tapi di sini ada yang spesial yang belum pernah aku makan seumur hidupku: sate hiu.
Rasanya tidak beda jauh dengan sate ayam. Daging hiu tidak berasa amis layaknya ikan-ikan lain. Dan cukup sekali saja. Not satisfy. Aku hanya bisa menikmati cumi goreng tepung, dan cumi bakarnya. Hari ke-2 : Menikmati kembali masakan khas Banyuwangi: Sego Janganan
Pagi harinya aku dibelikan sarapan sego cawuk/sego janganan. Sarapan khas masyarakat Banyuwangi. Nasi putih yang diberi kuah pindang dan kelapa parut yang dimasak dengan butiran jagung yang berkuah. Untuk lauknya biasanya telur cit (dimasak dengan petis), tempe goreng, pepes ikan, dan sebagainya. Untuk pelengkapnya adalah sambal terasi, kerupuk/rempeyek. Namun aku lebih menyukai dengan sambal pecel karena aku pikir sego janganan sangat tepat dengan sambel pecel daripada dengan sambel terasi biasa. Kemudian yang membuat rasa khasnya muncul adalah daun pisang sebagai pembungkusnya. Itu yang masih dijaga sampai sekarang oleh para penjualnya.
Hari ke-3 : Makan bersama bapak, ibu, dan Dini di rumah


Aku hanya merasakan nikmat. Ya. Satu kata itu yang bisa aku ungkapan meskipun aku butuh kata yang mempunyai arti lebih dari itu untuk mengungkapkan betapa indahnya saat makan bersama mereka dengan lauk yang sederhana: ikan laut yang digoreng dengan sambal terasi andalan ibu yang paling dahsyat dan lalapan. That’s it. Dengan lauk begitu saja aku bisa sampai nambah.
Hari ke-4 : Menyewa VCD di rental dan kedatangan tamu yang tidak bakal kau percaya
Aku menyewa 5 film di rental terlengkap di Banyuwangi. Doubt, 3 Hari Untuk Selamanya, Die Hard 4, Mean Creek, dan The Boy in the Striped Pyjamas. Malamnya, saat aku mengerjakan tugas MOS sepupuku, seorang tamu yang tidak aku kenal datang. Ternyata dia tidak sendirian. Dia membawa rombongan. Dan aku tekejut saat aku mengintip dan aku melihat sosok yang pas hari minggu kemarin aku lihat di Indosiar. Dia Emilia Contesa kalau kau ingin tahu. Ya, dia datang ke rumahku dan melihat seisi rumah mulai ruang tamu, kamar tidur, sampai dapurpun ia lihat. Dia calon klien bapakku yang ingin mengisi rumah barunya dengan perabotan. Semacam konsultasi dengan bapak. Wajarlah kalau menurutku mengingat dia asli orang Banyuwangi. Ini bukan bualan lho.
Hari ke-5: Watching Full Movies


Bangun tidur pagi hari langsung bikin sarapan sendiri. Roti diolesi mentega lalu diberi keju dan meses coklat. Minumannya mix juice (apel, tomat, jambu bangkok, dan wortel). Abis itu seharian aku sengaja menonton film-film yang aku sewa. Karena besok aku harus balik ke Surabaya. Tidak semua aku tonton. Separuhnya aku salin di komputerku. Dan ibuku kebetulan sedang membuat kue bolu waktu itu. Rasanya luar biasa. Lembut dan lembut.
Kamis malam dengan kereta api Mutiara Timur aku meinggalkan Banyuwangi lagi. Aku tidak sendirian. Dini, Mbah Kung dan Nenek juga ikut. Rencananya mereka akan ke Suramadu dengan Mas didit, adik dari ibu yang tinggal di Bojonegoro. Aku tidak langsung ke Surabaya. Kami turun di stasiun Sidoarjo, kecuali Dini. Tujuannya adalah ke rumah Mbak Maya, adik paling bungsu dari ibuku. Barulah malam harinya aku ke Surabaya diantar oleh Mbak Maya. Mempersiapkan untuk workshop La Lights Indie Movie besoknya. Dan badanku terasa remuk semua. Finaly, I slept tight dengan punggung penuh balsam.
Jumat, 10 Juli 2009
Pada Titik Nol
Rabu, 08 Juli 2009
PEMILU PRESIDEN 2009 & KING

Senin, 06 Juli 2009
Laki-laki di Lyn P
Hanya ada 3 penumpang dan 4-nya aku di dalam sini: seorang bapak-bapak yang duduk di belakang pojok depan aku persis (aku di pojok belakang yang lain), dan memiliki fisik kerdil dan bersuara mencicit, lalu laki-laki yang umurnya di bawahku dan duduk di sebelah bapak tadi, tapi lebih dekat dengan pintu masuk, dan penumpang yang lain aku tidak begitu memperhatikan. Alasan aku memerhatikan mereka adalah saat si bapak tadi berpindah tempat duduk di dekat pintu masuk bersebelahan dengan si anak laki-laki. Nah, tiba-tiba saja dengan nada yang sedikit kesal dan menantang si anak laki-laki tadi menegur si bapak, “Lho, Pak. Sampeyan kok teng meriku?”. (red: Lho, Pak. Anda kok di situ?).
Kemudian dengan ekspresi terkejut (karena aku juga kaget) bapak itu berkata, “Opo o? Aku lho kate mudhun.” Sambil memerhatikan dengan aneh si anak laki-laki. (red: Kenapa? Aku kan mau turun.).
Nah, mulai dari situ aku curiga dan merasa ada yang tidak beres dengan anak laki-laki itu. Spekulasiku tentang anak itu yang pertama adalah mabuk. Pasti anak itu mabuk. Dan yang kedua stress.
Beberapa menit kemudian si bapak turun dan penumpang menjadi banyak. Sekarang anak laki-laki itu duduk di depanku, tempat pertama kali bapak tadi duduk. Dan sekarang pula aku yang menjadi sedikit takut. Hingga sampai di terminal, aku pikir aku sudah tidak bakal ketemu anak itu tadi. Aku naik angkot untuk jurusan ke kosku yang masih berhenti di dalam terminal untuk menunggu penumpang. Angkotku sepi sama sekali. Hanya aku penumpangnya.
Aku pergi ke pojok belakang angkot. Belum sampai aku bernapas santai, kupikir cuma penumpang biasa yang naik tapi ternyata anak laki-laki tadi. Tanpa basa-basi dia langsung bercerita bahwa dia mau ke Sidoarjo karena ibunya meninggal dan tidak punya cukup uang untuk pergi kesana dengan taksi. Seketika itu aku buka kaca jendela angkot untuk jaga-jaga barangkali terjadi sesuatu karena di luar angkot masih banyak supir angkot yang ngobrol. Kemudian dia menyebutkan angka uang yang ia butuhkan setelah aku menanyakannya, yaitu 25 ribu rupiah. Lalu aku bilang ke dia bahwa aku hanya bisa memberikannya 20 ribu, tapi dia kemudian menawar lagi. Duapuluh dua ribu. Karena katanya dia punya 3 ribu. OK. Tidak mau berurusan panjang dengannya, aku turuti saja apa maunya. Dan kemudian dia pergi setelah meminta nomor handphone-ku tapi tidak aku beri. Alasannya supaya dia bisa mengembalikan uang yang telah ia “pinjam”.
Aku sudah beberapa kali mengalami kejadian seperti ini. Dan aku tahu mereka hanya mengada-ada cerita.
